Hujan turun deras malam itu, membasahi jalan kecil menuju rumah sakit. Maria menggenggam payungnya erat, meski air tetap merembes ke sepatunya. Di tangannya ada secarik kertas hasil diagnosis dokter: gagal ginjal stadium akhir.
Doanya sejak sore hanya satu,“Tuhan, aku capek. Aku takut.”
Maria bukan orang yang asing dengan gereja. Ia rajin melayani, rajin berdoa, rajin tersenyum. Tapi malam itu, imannya terasa kosong. Tuhan terasa jauh. Seakan semua ayat yang pernah ia hafal menguap bersama hujan.
Di perempatan jalan, Maria berhenti. Lampu lalu lintas mati karena badai. Jalanan gelap. Mobil-mobil melambat, saling membunyikan klakson dengan panik.
Di tengah kekacauan itu, Maria melihat seorang pria tua berdiri di tengah hujan. Bajunya lusuh, rambutnya basah kuyup. Ia mengangkat sebuah lampu minyak kecil, mengarahkan kendaraan satu per satu agar tidak saling bertabrakan.
Maria tertegun.“Kenapa dia melakukan itu?” gumamnya.
Beberapa menit kemudian, hujan mereda. Listrik menyala kembali. Pria tua itu melangkah ke pinggir jalan, lampunya masih menyala, lalu tersenyum ke arah Maria seolah mengenalnya.
Maria memberanikan diri mendekat.
“Pak… kenapa Bapak berdiri di tengah hujan? Itu berbahaya.”
Pria itu tersenyum lembut.
“Kalau tidak ada yang mau jadi terang, kegelapan akan menang.”
Kalimat itu menusuk hati Maria.
Pria itu melanjutkan,
“Lampu ini kecil. Tidak menghilangkan hujan. Tidak menghentikan badai. Tapi cukup untuk menuntun orang agar tidak tersesat.”
Sebelum Maria sempat bertanya lebih jauh, pria itu pergi, menghilang di antara kerumunan.
Malam itu, Maria pulang dengan hati yang berbeda. Penyakitnya masih ada. Ketakutannya belum sepenuhnya hilang. Tapi ia mengerti satu hal:
Tuhan tidak selalu menghentikan badai.
Kadang Ia memanggil kita menjadi terang di dalam badai itu.
Beberapa bulan kemudian, Maria rutin menjalani cuci darah. Di ruang perawatan, ia tersenyum pada pasien lain, mendengarkan keluh kesah mereka, dan berdoa bersama yang putus asa.
Suatu hari seorang pasien berkata,
“Mbakyu, saya tidak tahu kenapa… tapi setiap lihat kamu, saya merasa ada harapan.”
Maria tersenyum sambil menatap ke luar jendela. Hujan turun perlahan.
Ia teringat lampu kecil di tengah hujan.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama, ia berdoa bukan dengan air mata ketakutan, tapi dengan iman:
“Tuhan, terima kasih. Pakailah hidupku, meski kecil, untuk
menjadi terang.”
.jpeg)
0 Comments
Tinggalkan Komentar di sini