Advertisement

Responsive Advertisement

“Jeritan di Tengah Bata”

Angin gurun berhembus pelan, membawa debu yang menempel di kulit para pekerja. Di antara mereka berdiri seorang pemuda bernama Eliazar, tangannya kasar oleh tanah liat dan jerami. Sejak kecil ia tak pernah mengenal hari tanpa kerja paksa di bawah perintah raja Firaun.

Hari itu berbeda.

Kabar beredar cepat di antara bangsa Israel: dua orang pemimpin telah kembali dari istana. Mereka adalah Musa dan saudaranya, Harun. Dengan berani mereka menghadap Firaun dan berkata bahwa Tuhan Israel memerintahkan agar bangsa itu diizinkan pergi ke padang gurun untuk beribadah.

Eliazar merasakan harapan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. “Mungkin ini saatnya,” bisik ibunya malam itu. “Mungkin Tuhan sungguh melihat penderitaan kita.”

Namun keesokan paginya, suara cambuk terdengar lebih keras dari biasanya.

Mandor-mandor Mesir berdiri dengan wajah tegas. Perintah baru telah turun dari Firaun: bangsa Israel tidak lagi diberi jerami untuk membuat batu bata. Mereka harus mencari sendiri jerami, tetapi jumlah batu bata yang harus disetorkan tetap sama.

“Siapa yang lalai, akan dihukum!” teriak seorang pengawas.

Eliazar berlari menyusuri ladang kering, memungut sisa-sisa jerami yang tercecer. Tangannya berdarah, punggungnya perih. Matahari terasa lebih panas dari hari-hari sebelumnya. Di tengah kepenatan, bisikan harapan kemarin berubah menjadi pertanyaan: Mengapa setelah Musa datang, penderitaan justru bertambah?

Beberapa kepala kaum Israel memberanikan diri menghadap Firaun untuk memohon keringanan. Tetapi mereka diusir dengan kata-kata keras. “Kalian malas!” tuduh Firaun. “Itu sebabnya kalian ingin pergi beribadah!”

Saat para pemimpin itu kembali, wajah mereka penuh ketakutan dan kemarahan. Mereka bertemu Musa dan Harun di gerbang kota.

“Biarlah Tuhan menghakimi kalian!” seru salah satu dari mereka. “Kalian membuat kami dibenci Firaun dan memberi alasan untuk membunuh kami!”

Eliazar berdiri tak jauh dari situ. Ia melihat Musa terdiam, matanya memandang jauh ke arah langit senja. Malam itu, Musa berseru kepada Tuhan, mempertanyakan mengapa bangsa itu justru semakin menderita sejak ia diutus.

Eliazar tak mendengar doa itu secara langsung. Tetapi ia melihat sesuatu yang berbeda di wajah Musa—bukan putus asa, melainkan pergumulan seorang yang tetap percaya walau belum mengerti.

Hari-hari berikutnya tetap berat. Batu bata tetap harus dibuat. Jerami tetap harus dicari. Cambuk tetap terdengar. Namun di dalam hati Eliazar, sebuah benih kecil tetap hidup: jika Tuhan sudah mulai bertindak, mungkin ini bukan akhir cerita.

Mungkin, justru di tengah tekanan terberat, pembebasan sedang dipersiapkan.

Dan di antara debu, keringat, dan jeritan, iman belajar bertahan.

Post a Comment

0 Comments