Advertisement

Responsive Advertisement

Refleksi Minggu Sengsara I – Kitab Keluaran 5:1–24

                                   Bekerja Menyatu Memperlihatkan Kepedulian Tuhan

Minggu Sengsara pertama mengawali perjalanan iman menuju salib dan kebangkitan. Masa ini bukan sekadar rangkaian liturgi gerejawi, melainkan waktu untuk merenungkan kasih Allah yang dinyatakan melalui penderitaan dan karya keselamatan-Nya. Jika pada minggu sebelumnya kita belajar dari Kitab Yunus 4 tentang luasnya belas kasih Allah bagi semua bangsa, maka dalam Keluaran 5 kita melihat sisi lain dari Allah yang sama: Allah yang mendengar, yang peduli, dan yang bertindak membebaskan.

Bangsa Israel tinggal di Mesir sejak zaman Yusuf. Seiring waktu mereka bertambah banyak sehingga Firaun merasa terancam. Akibatnya, Israel diperbudak dan dipaksa melakukan kerja berat. Mereka hidup dalam tekanan, kehilangan kebebasan, dan mengalami ketidakadilan sistemik.

Dalam situasi itulah Tuhan mengutus Musa dan Harun menghadap Firaun dengan satu tuntutan tegas: “Biarkanlah umat-Ku pergi, supaya mereka beribadah kepada-Ku.” Tujuan pembebasan bukan sekadar keluar dari kerja paksa, tetapi supaya umat dapat menyembah Tuhan dengan bebas. Kebebasan sejati adalah kebebasan untuk hidup bagi Allah.

Namun respons Firaun justru memperlihatkan kesombongan manusia yang menolak otoritas Tuhan. Ia berkata tidak mengenal TUHAN. Bahkan ia memperberat beban kerja Israel: jerami tidak lagi diberikan, tetapi jumlah bata harus tetap sama. Penindasan meningkat ketika harapan akan kebebasan mulai muncul.

Keluaran 5 menghadirkan kenyataan pahit: ketika Musa taat pada panggilan Tuhan, keadaan tidak segera membaik. Justru penderitaan bangsa Israel bertambah berat. Mandor dipukul. Umat mengeluh. Bahkan mereka menyalahkan Musa dan Harun. Musa sendiri kembali kepada Tuhan dengan keluhan dan pertanyaan.

Kisah ini mengajarkan bahwa proses pembebasan Allah tidak selalu instan. Terkadang, sebelum terang dinyatakan, kegelapan terasa semakin pekat. Dalam kehidupan jemaat pun, kita sering mengalami hal serupa. Ketika mulai hidup lebih sungguh bagi Tuhan, tantangan muncul. Ketika memperjuangkan kebenaran, tekanan meningkat. Ketika berharap perubahan, keadaan tampak semakin sulit.

Namun firman ini menegaskan: penderitaan bukan tanda bahwa Tuhan meninggalkan umat-Nya. Justru di tengah pergumulan, Allah sedang bekerja mempersiapkan pembebasan.

Walau Keluaran 5 berakhir tanpa solusi langsung, kita tahu bahwa kisah ini bukan akhir cerita. Allah yang memulai karya-Nya tidak berhenti di tengah jalan. Ia akan menyatakan kuasa-Nya melalui tulah-tulah, membelah laut, dan membawa umat-Nya keluar dari perbudakan.

Perjalanan Minggu Sengsara menolong kita melihat penggenapan terbesar dari karya pembebasan Allah di dalam diri Yesus Kristus. Jalan salib bukan kegagalan, melainkan rencana keselamatan. Penderitaan Kristus bukan akhir, melainkan jalan menuju kebangkitan.

Sebagaimana Israel mengalami peningkatan penderitaan sebelum pembebasan, demikian pula salib mendahului kemenangan. Allah yang bekerja di Mesir adalah Allah yang sama yang bekerja melalui salib Kristus.

Tema “Bekerja Menyatu Memperlihatkan Kepedulian Tuhan” mengingatkan bahwa Allah sering menyatakan karya-Nya melalui kebersamaan umat. Musa tidak berjalan sendiri. Harun menyertai. Umat dipanggil untuk berdiri bersama.

Namun tekanan justru memecah persatuan. Bangsa Israel saling menyalahkan. Di sinilah iman diuji: apakah kesulitan membuat kita terpecah atau justru semakin bersatu?

Sebagai gereja, kita dipanggil membangun solidaritas dan persaudaraan. Kepedulian Tuhan menjadi nyata ketika umat saling menguatkan, saling menopang, dan menolak perpecahan. Dalam konteks kehidupan sosial, termasuk di tanah Papua dan seluruh Indonesia, persatuan dalam iman, kasih, dan damai sejahtera menjadi kesaksian yang hidup.

Persatuan bukan sekadar strategi sosial, melainkan panggilan rohani. Ketika jemaat bekerja menyatu, dunia dapat melihat tanda kehadiran Tuhan di tengah umat-Nya.

Keluaran 5 menggambarkan titik terendah sebelum pembebasan dinyatakan. Demikian pula Minggu Sengsara mengingatkan kita bahwa salib bukanlah akhir. Kebangkitan menanti. Harapan melampaui penderitaan.

Bagi setiap orang percaya yang sedang menghadapi tekanan hidup—baik dalam pekerjaan, keluarga, pelayanan, maupun pergumulan sosial—firman ini menjadi penguatan: Tuhan tidak menutup mata. Ia mendengar. Ia menyertai. Ia bekerja dalam waktu-Nya.

Minggu Sengsara pertama mengajak kita memegang tiga keyakinan:

1.Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya.

2.Tuhan bekerja melalui kebersamaan dan persatuan.

3.Penderitaan bukan akhir, melainkan bagian dari proses menuju pembebasan.

Kiranya dalam perjalanan menuju Paskah, kita semakin percaya bahwa Allah yang berbelaskasihan adalah Allah yang juga bertindak membebaskan. Dan melalui hidup yang bekerja menyatu, kepedulian Tuhan dinyatakan bagi dunia.


Post a Comment

0 Comments