Pendidikan YPK Diibaratkan Anak Yatim Piatu, Dr. Bernard
Sagrim Serukan Perjuangan Karakter Kristus
SOROAN – Yayasan Pendidikan Kristen (YPK) di Tanah Papua
menghadapi tantangan berat. Hal ini disampaikan oleh Koordinator Wilayah
(Korwil) VII dan XI YPK di Tanah Papua, Dr. Bernard Sagrim, Drs., MM, dalam
acara Ibadah Syukur Akhir Semester Ganjil Tahun Ajaran 2025/2026 yang
diselenggarakan di Jemaat GKI Paulus Soroan pada Senin (15/12/2025).
Acara yang dimulai tepat pukul 09.00 WIT ini dihadiri oleh
seluruh siswa, guru, dan orang tua murid dari unit-unit sekolah YPK, termasuk
TK Paud Paulus Soroan, SD YPK Paulus Soroan, SMP YPK Paulus Soroan, dan TK Paud
Laharoy Ayamaru.
Dr. Bernard Sagrim menegaskan bahwa kehadirannya adalah
untuk menunjukkan bahwa YPK itu ada di Tanah Papua. Namun, dalam sambutannya,
ia juga menyampaikan keprihatinan mendalam terkait kondisi yayasan saat ini.
"Pendidikan YPK itu mau dibilang seperti Anak Yatim
Piatu dalam situasi dan kondisi di saat ini," ujar Dr. Sagrim.
Kondisi ini, jelasnya, disebabkan oleh peraturan dari
kementerian yang memberikan Pendidikan gratis di sekolah-sekolah Negeri.
Akibatnya, banyak orang tua di daerah perkotaan seperti Kota Sorong dan
Jayapura lebih memilih menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah Negeri yang
bebas biaya.
Meskipun menghadapi tantangan finansial dan minat siswa, Dr.
Sagrim menekankan bahwa misi utama YPK tidak boleh bergeser.
"Pendidikan khusus di Sekolah-sekolah YPK tidak sekedar kita belajar. Tetapi yang paling penting adalah memberikan contoh, teladan, membentuk karakter, dan membina doktrin dari anak-anak kita sehingga mereka memiliki apa yang disebut karakter Kristus," tegasnya.
Ia menyerukan kepada seluruh komponen YPK untuk bersama-sama
mengangkat harkat dan martabat sekolah YPK. Langkah konkret yang disarankan
adalah mengarahkan orang tua, tetangga, dan keluarga setiap tahun untuk
menyekolahkan anak-anak di sekolah YPK.
"Sekolah YPK bukan hanya sekadar mendidik dan mengajar,
tetapi membentuk karakter Kristus. Ini akan membentuk integritas sejati mereka
untuk bisa menjadi warga masyarakat, warga negara Indonesia, anak-anak Papua,
dan warga jemaat yang betul-betul bertanggung jawab, memiliki komitmen, dan
jati diri yang baik untuk melayani," tutup Dr. Sagrim.
Ibadah penutupan semester ganjil ini dilayani oleh Ketua Jemaat GKI Paulus Soroan, Pdt. Carolina M. Lulu, S.Th. Dalam khotbahnya yang diambil dari Injil Markus 1:1-8, dengan tema "Yohanes Pembaptis dan Kedatangan Mesias," Pdt. Carolina menekankan pentingnya bersyukur atas penyertaan Tuhan.
Menurut Pdt. Carolina, firman Tuhan tentang Yohanes
Pembaptis yang menyerukan kedatangan Yesus sebagai Mesias sangat relevan bagi
Pendidikan di atas Tanah Papua. Pesan utamanya adalah agar semua jalan
dipersiapkan ketika Sang Mesias datang, menyiratkan kesiapan rohani dan
karakter dalam menyambut masa depan.



0 Comments
Tinggalkan Komentar di sini