Advertisement

Responsive Advertisement

Cerpen Rohani Sungai Wensi

 

Cerpen Rohani Sungai Wensi

 

Kampung itu bernama Soroan yang di kelilingi Sungai bernama Wensi. Sebuah kampung kecil yang seolah dipeluk oleh satu sungai jernih yang mengalir tenang dari perbukitan. Jika musim kemarau tiba, sungai itu menjadi cermin langit biru. Namun saat hujan turun berhari-hari, airnya meluap, menguji iman dan keteguhan warga kampung.



Di kampung itu tinggal seorang anak bernama Mika. Ayahnya seorang nelayan sungai, sedangkan ibunya mengurus rumah dan aktif melayani di gereja kecil beratap seng di tengah kampung. Setiap pagi Minggu, lonceng gereja berbunyi lembut, memantul di atas air sungai, mengundang warga untuk beribadah.

Namun Mika menyimpan kegelisahan. Ayahnya sudah beberapa minggu sakit dan tak lagi bisa menyusuri sungai dengan perahunya. Persediaan makanan menipis, dan Mika sering bertanya dalam hati, “Tuhan, apakah Engkau masih melihat kami?”

Suatu sore, hujan turun deras. Air sungai naik cepat. Warga kampung panik karena jembatan kayu penghubung ke luar kampung hampir roboh. Mika melihat ayahnya terbaring lemah, sementara ibunya berdoa dengan air mata mengalir.

Malam itu, listrik padam. Dalam gelap, ibunya menyalakan lilin dan membuka Alkitab kecil yang sudah lusuh. Dengan suara gemetar, ia membaca:

“Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.”(Mazmur 23:1)

Kata-kata itu menenangkan Mika, meski air sungai terus mengamuk di luar rumah.

Keesokan paginya, hujan berhenti. Matahari muncul perlahan, dan warga kampung berkumpul untuk saling membantu. Anehnya, seorang pedagang dari kampung seberang datang membawa bahan makanan, berkata bahwa hatinya tergerak semalam untuk menolong. Tak lama kemudian, seorang penatua gereja mengumumkan bahwa ayah Mika akan dibawa berobat ke kota dengan bantuan dana bersama.

Mika berdiri di tepi sungai, menatap air yang kini kembali tenang. Ia akhirnya mengerti: Tuhan tidak selalu menghentikan badai, tetapi Tuhan setia berjalan bersama umat-Nya melewati badai itu.

Sejak hari itu, setiap kali lonceng gereja berbunyi dan gema suaranya menari di atas sungai, Mika tersenyum. Ia tahu, di kampung kecil yang dikelilingi sungai itu, iman adalah jembatan terkuat yang menghubungkan manusia dengan pengharapan.

Post a Comment

0 Comments