Advertisement

Responsive Advertisement

Cahaya di Pagi Hari

 

Cahaya di Pagi Hari

Setiap pagi buta, sebelum matahari terbit, sebuah lilin kecil selalu menyala di jendela rumah paling ujung gang. Rumah itu milik Pak Samuel, seorang duda tua yang hidup sederhana sejak istrinya dipanggil Tuhan beberapa tahun lalu.



Tak banyak yang mengenalnya dekat. Ia jarang berbicara panjang, tetapi senyumnya selalu hangat. Banyak yang mengira lilin itu hanya kebiasaan lama. Padahal, lilin itu dinyalakan setiap kali Pak Samuel berlutut dan berdoa.

Bagi Pak Samuel, pagi adalah waktu terbaik untuk datang kepada Tuhan. Saat dunia masih sunyi, hatinya belajar berserah.

Suatu pagi yang dingin, Maria—seorang guru muda yang baru pindah ke lingkungan itu—berjalan tergesa menuju halte. Pikirannya kacau. Ia akan menghadapi rapat penting di sekolah, sementara doanya akhir-akhir ini terasa hampa.

Tanpa sengaja, ia tersandung di depan rumah Pak Samuel. Lututnya terbentur cukup keras.

“Ya Tuhan…” keluhnya.

Pintu rumah terbuka. Pak Samuel keluar membawa selimut tipis.

“Masuklah dulu, Nak. Luka tidak boleh dibiarkan,” katanya lembut.

Di dalam rumah itu, Maria melihat Alkitab terbuka di meja kecil, di samping lilin yang masih menyala. Entah mengapa, hatinya terasa tenang.

“Bapak selalu bangun sepagi ini?” tanya Maria.

Pak Samuel tersenyum.

“Sejak saya kehilangan istri saya, saya belajar satu hal: Tuhan tidak pernah meninggalkan. Setiap pagi, saya datang kepada-Nya bukan karena kuat, tapi karena saya lemah.”

Kata-kata itu menembus hati Maria. Ia menyadari selama ini ia datang kepada Tuhan hanya saat membutuhkan jawaban, bukan saat membutuhkan Tuhan sendiri.

Sebelum Maria pergi, Pak Samuel berkata pelan,

“Tuhan Yesus tidak menunggu kita sempurna. Dia menunggu kita datang.”

Hari-hari berlalu. Maria mulai memperhatikan lilin di jendela itu. Setiap kali melihatnya, ia teringat bahwa terang kecil pun sanggup melawan gelap.

Suatu malam, hujan deras mengguyur gang itu. Maria mendengar suara ambulans berhenti di depan rumah Pak Samuel. Ia berlari keluar.

Pak Samuel terkena serangan jantung. Beberapa hari kemudian, ia berpulang dengan damai.

Sejak itu, jendela rumah ujung gang itu gelap.

Namun pada suatu pagi, Maria bangun lebih awal. Ia membuka Alkitab yang lama tak tersentuh. Dengan tangan gemetar, ia berdoa.

“Tuhan, aku tidak selalu mengerti jalan-Mu. Tapi aku percaya Engkau setia.”

Ia menyalakan sebuah lilin kecil di jendelanya.

Hari demi hari, satu demi satu jendela di gang itu mulai bercahaya saat pagi tiba. Tidak terang benderang, tetapi cukup untuk saling mengingatkan bahwa Terang sejati tidak pernah padam.

Sebab seperti tertulis:“Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.”

(Yohanes 1:5)

Post a Comment

0 Comments