Advertisement

Responsive Advertisement

Mampukah Kita Mengenali Suara Tuhan?

 

Renungan: Mampukah Kita Mengenali Suara Tuhan?

 

Dua ribu tahun lalu, Tuhan Yesus berjanji bahwa Ia akan datang kembali. Sejak itu, orang percaya menantikan penggenapan janji tersebut. Ketika kita memandang dunia hari ini—peperangan yang tak berkesudahan, bencana alam, wabah penyakit, kemerosotan moral, dan kehidupan rohani yang semakin kering—hati kita mungkin bertanya: Apakah Tuhan sudah dekat?

Alkitab memang menyingkapkan banyak tanda tentang kedatangan Tuhan kembali. Namun Tuhan Yesus tidak pernah meminta kita hanya sibuk menghitung tanda-tanda. Ia justru berulang kali mengingatkan agar kita berjaga-jaga dan mempersiapkan hati. Sebab ketika Tuhan datang, tidak semua orang yang melihat tanda akan mengenali-Nya, tetapi hanya mereka yang mengenal suara-Nya.

Tuhan Yesus berkata, “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku” (Yoh. 10:27). Ini menunjukkan bahwa hubungan dengan Tuhan bukan sekadar soal pengetahuan, tradisi, atau kesalehan lahiriah, melainkan soal kepekaan hati terhadap kebenaran. Banyak orang pada zaman Tuhan Yesus menantikan Mesias, tetapi karena berpegang pada pemahaman sendiri, mereka justru menolak Dia ketika Ia benar-benar datang.

Renungan ini mengajak kita bercermin:Apakah kita sungguh mengasihi kebenaran?

Apakah kita mau merendahkan diri untuk mencari dan menyelidiki, ataukah kita merasa sudah cukup tahu?

Apakah iman kita hidup, atau hanya rutinitas keagamaan?

Menyambut kedatangan Tuhan bukan terutama tentang di mana atau bagaimana Ia datang, melainkan tentang apakah hati kita siap. Hati yang rendah, rindu akan kebenaran, dan mau mendengarkan suara Tuhan akan dituntun oleh Roh Kudus. Sebaliknya, hati yang keras dan merasa paling benar berisiko kehilangan kesempatan yang paling berharga.

Kiranya renungan ini mendorong kita untuk tidak hanya menantikan Tuhan dengan mata, tetapi menyambut-Nya dengan hati. Mari belajar menjadi seperti gadis-gadis yang bijaksana—senantiasa berjaga, mencari kebenaran, dan siap mengikuti Anak Domba ke mana pun Ia pergi.

Doa:

Tuhan, lembutkanlah hati kami. Jauhkan kami dari kesombongan rohani dan ajari kami untuk mengasihi kebenaran. Berilah kami kepekaan untuk mengenali suara-Mu dan ketaatan untuk mengikuti kehendak-Mu, agar ketika Engkau datang, kami tidak tertinggal. Amin.

Post a Comment

0 Comments