Advertisement

Responsive Advertisement

Suara yang Tidak Terlihat


Tahun 2026 datang tanpa pesta besar di Kampung Soroan. Tidak ada baliho warna-warni, tidak ada spanduk panjang. Yang ada hanya hujan tipis, tanah hitam yang lengket di kaki, dan sebuah kalimat yang pelan-pelan diulang di mimbar gereja:

 “Tahun ini adalah Tahun Kepedulian.”

 Bagi sebagian orang, itu hanya tema. Tapi bagi Marta, kata itu seperti panggilan yang tidak bisa diabaikan.

 Marta adalah guru sekolah minggu. Setiap Minggu ia datang paling awal ke gereja kayu di tepi sungai. Ia menyapu lantai, menyiapkan Alkitab kecil, dan menunggu anak-anak yang sering datang dengan baju lusuh dan kaki telanjang.

 Suatu pagi, ia menyadari satu anak tidak hadir. Namanya Samuel.

 Samuel biasanya duduk paling depan. Ia tidak banyak bicara, tapi matanya selalu menatap Marta dengan penuh rasa ingin tahu. Hari itu, bangkunya kosong. Minggu berikutnya juga kosong.

 “Samuel sakit,” kata seorang anak.

 “Sakit apa?” tanya Marta.

 Anak itu mengangkat bahu. “Katanya mama tidak punya uang ke puskesmas.”

 Kalimat itu terus terngiang di kepala Marta sepanjang khotbah. Tahun Kepedulian. Tapi kepedulian macam apa, kalau anak sekecil itu harus menahan sakit karena tak terlihat?

 Sore itu Marta berjalan menyusuri kampung. Ia melewati rumah-rumah papan, suara babi di kandang, dan anak-anak yang bermain tanpa alas kaki. Rumah Samuel berada di ujung, dekat hutan sagu.

 Samuel terbaring di tikar. Nafasnya pendek. Ibunya duduk di sampingnya, memegang tangan kecil yang panas.

 “Saya malu,” kata sang ibu pelan. “Saya pikir, gereja sibuk. Pendeta sibuk. Kita orang kecil.”

 Marta menelan ludah. Dadanya sesak.

 Malam itu, ia tidak bisa tidur. Ia teringat khotbah Sinode tentang kepedulian yang bukan hanya kata, tapi tindakan. Tentang gereja yang hadir bukan hanya di mimbar, tapi di luka, di perut kosong, di air mata yang tidak disorot kamera.

 Esoknya, Marta berbicara. Bukan di mimbar besar, tapi di beranda gereja. Ia mengajak beberapa ibu, pemuda, dan penatua.

 “Kita tidak punya banyak uang,” katanya jujur. “Tapi kita punya hati. Dan itu cukup untuk mulai.”

 Mereka patungan. Ada yang memberi beras, ada yang menemani ke puskesmas, ada yang menjaga anak-anak lain. Pendeta datang, bukan dengan khotbah panjang, tapi dengan doa dan kehadiran.

 Samuel akhirnya dibawa berobat. Tidak langsung sembuh, tapi ia tersenyum lagi. Itu sudah cukup bagi Marta.

 Beberapa bulan kemudian, gereja mulai berubah. Ada kotak kecil di sudut ruangan: Kotak Kepedulian. Tidak besar, tapi selalu terisi. Anak-anak sekolah minggu belajar berbagi. Pemuda belajar mendengar. Orang tua belajar saling menjaga.

 Tahun 2026 terus berjalan. Tidak semua masalah selesai. Kemiskinan masih ada. Luka masih ada. Ketidakadilan masih terasa.

 Tapi kini, tak ada lagi yang benar-benar sendirian.

 Dan Marta mengerti satu hal:

kepedulian bukan tentang melakukan hal besar,

melainkan tentang tidak menutup mata.

 Di Tanah Papua, di gereja kecil itu, Tahun Kepedulian bukan slogan.

Ia hidup.

Ia berjalan.

Ia bernafas bersama umatnya.

Post a Comment

0 Comments