Pembacaan Firman Tuhan (Yunus 1:1–17 – Parafrasa)
Tuhan memanggil Yunus untuk pergi ke Niniwe dan menyampaikan
peringatan-Nya. Namun Yunus menolak dan melarikan diri ke arah yang berlawanan.
Di tengah pelayarannya, Tuhan mengirim badai besar. Para awak kapal ketakutan
dan akhirnya mengetahui bahwa badai itu terjadi karena ketidaktaatan Yunus.
Yunus pun dilemparkan ke laut, badai reda, dan Tuhan menyediakan seekor ikan
besar untuk menelan Yunus. Yunus tinggal di dalam perut ikan itu selama tiga
hari tiga malam.
Cerpen Rohani: “Di Dalam Perut Ikan”
Gelap. Sunyi. Dan dingin.
Itulah hal pertama yang Yunus rasakan ketika kesadarannya
kembali.
Ia tidak tahu di mana dirinya berada, hanya bau asin yang
menusuk dan suara air yang bergemuruh dari segala arah. Tubuhnya lemas,
napasnya berat. Baru perlahan ia menyadari—ia masih hidup. Tapi hidup di tempat
yang mustahil.
“Ini… bukan laut,” gumamnya lirih.
Ia teringat badai, teriakan para pelaut, dan tubuhnya yang
terhempas ke air. Ia yakin semuanya telah berakhir. Namun ternyata Tuhan belum
selesai dengannya.
Dalam kegelapan perut ikan itu, Yunus tidak bisa berlari
lagi. Tidak ada kapal ke Tarsis. Tidak ada arah berlawanan. Yang ada hanyalah
dirinya dan suara Tuhan yang selama ini ia abaikan.
“Tuhan,” bisiknya dengan suara gemetar, “aku lari dari
panggilan-Mu.”
Di sanalah Yunus belajar bahwa ketidaktaatan tidak pernah
membawa damai, dan pelarian dari Tuhan selalu berakhir di tempat yang lebih
sempit. Namun kasih Tuhan lebih besar dari pemberontakan manusia. Bahkan di
dalam perut ikan, Tuhan tetap memelihara hidup Yunus.
Hari demi hari berlalu—tiga hari tiga malam. Di tempat
tergelap itulah hati Yunus mulai diterangi. Ia sadar bahwa Tuhan bukan hanya
Allah yang memanggil, tetapi juga Allah yang memberi kesempatan kedua.
Dan ketika waktunya tiba, ikan itu memuntahkan Yunus ke
daratan. Bukan sebagai nabi yang sempurna, tetapi sebagai hamba yang telah
dipatahkan dan diperbarui.
Tuhan tetap setia.
Misi-Nya tetap berjalan.
Dan Yunus pun belajar: tidak ada tempat sejauh apa pun untuk
lari dari kasih Tuhan.
Pesan Rohani :
Kadang Tuhan mengizinkan kita masuk ke “perut ikan” dalam
hidup—bukan untuk membinasakan, tetapi untuk menyadarkan. Karena Tuhan lebih
tertarik pada ketaatan hati daripada kecepatan langkah.
0 Comments
Tinggalkan Komentar di sini