Di awal langkah menuju salib-Mu,
langit seakan redup menahan pilu.
Di jalan berdebu tanah Yerusalem,
Engkau melangkah dengan kasih yang tak layu.
Sorak sorai pernah menyambut-Mu,
ranting palma terhampar di jalan-Mu.
Namun Engkau tahu, di balik pujian itu,
tersimpan badai yang kan mengguncang kalbu.
lembut wajah-Mu menyimpan duka.
Engkau melihat cawan derita,
namun tak berpaling dari kehendak Bapa.
Di Minggu pertama sengsara-Mu,
kami belajar tentang setia yang teguh.
Tentang cinta yang rela terluka,
demi jiwa-jiwa yang rapuh dan berdosa.
Ajari kami memikul salib kecil kami,
dalam sunyi, dalam air mata tersembunyi.
Agar di setiap jejak langkah kami,
terpantul kasih-Mu yang suci dan abadi.
.jpeg)
0 Comments
Tinggalkan Komentar di sini