Langit di atas kota Yerusalem pagi itu berwarna keemasan.
Orang-orang berdesakan di sepanjang jalan, menghamparkan jubah dan daun palma.
Mereka bersorak ketika seorang Guru memasuki kota dengan menunggang seekor
keledai muda.
Dia adalah Yesus Kristus.“Apa kau yakin Dia Raja?” bisik seorang anak kecil bernama
Ezra pada ibunya.Sang ibu tersenyum samar. “Banyak yang percaya begitu.”
Sorak-sorai menggema, “Hosana!” Harapan menggantung di udara
seperti embun pagi—jernih, namun rapuh.Hari-hari berikutnya berubah cepat.
Di pelataran Bait Allah, Yesus membalikkan meja-meja penukar
uang. Wajah-Nya tegas, suara-Nya mengguncang dinding-dinding batu. Ezra yang
mengintip dari balik tiang hanya melihat api dalam mata Sang Guru—api yang
bukan marah semata, melainkan rindu akan kemurnian.
Namun api itu membuat para pemimpin agama gelisah.
Di sebuah ruang makan sederhana, pada malam yang hening,
Yesus duduk bersama murid-murid-Nya. Roti dipecah, cawan diedarkan.
Kata-kata-Nya terdengar berat, seperti pertanda perpisahan.
Yudas menggenggam kantong kecil berisi perak. Matanya
berkilat oleh kegelisahan.
Taman Taman Getsemani malam itu basah oleh embun dan doa.
Yesus berlutut, sementara murid-murid-Nya terlelap oleh kantuk dan ketakutan
yang tak mereka pahami. Ezra, yang mengikuti dari jauh karena rasa ingin
tahunya, melihat bayangan-bayangan membawa obor.
Ciuman pengkhianatan mendarat di pipi Sang Guru. Ezra ingin berteriak, tapi suaranya tercekat.
Fajar membawa pengadilan yang tergesa-gesa. Di hadapan
Pontius Pilatus, orang banyak yang dulu bersorak kini berteriak lain. “Salibkan
Dia!”
Ezra berdiri di antara kerumunan. Telinganya berdenging.
Apakah ini orang-orang yang sama? Apakah hati manusia bisa berubah secepat
angin gurun?
Kayu salib dipanggul menuju bukit di luar kota. Langit yang
tadi cerah berubah kelabu.
Di atas kayu itu, Yesus memandang ke bawah. Tidak ada
kebencian di mata-Nya—hanya kasih yang sulit dimengerti.
Ezra menangis.Saat bumi bergetar dan tirai Bait Allah terbelah, Ezra
merasa sesuatu dalam dirinya juga terbelah. Harapannya hancur—namun anehnya,
bukan menjadi debu, melainkan menjadi benih.
Tiga hari kemudian, bisik-bisik beredar di antara
lorong-lorong Yerusalem. Kubur kosong. Batu terguling.Ezra berlari, napasnya tersengal. Ia tak tahu apa yang harus
ia percaya. Tapi di dalam hatinya, ada cahaya kecil yang mulai menyala.
Minggu itu memang minggu sengsara.Namun dari sengsara, lahirlah harapan.
Dan Ezra mengerti—Raja yang ia lihat memasuki kota dengan
keledai bukan datang untuk menaklukkan dengan pedang, melainkan dengan kasih.
0 Comments
Tinggalkan Komentar di sini